Bagi yang tinggal di sekitar Lawakan2 Thukul sebenarnya agak kasaran bagi orang Jawa dan orang yang mengerti budaya Jawa dapat dikatakan seperti sebuah percakapan (dan umapatan) yang didengar di warung dan percakapan sehari2 dan bagi orang – orang di daerah pedalaman Jawa (Solo – Jogja) yang penuh unggah-ungguh, bahkan Pak Becak atau kusir dokarpun minimal berbahasa Krama atau bahasa yang halus.
yang kurang halus dibandingkan seni budaya yan
g dekat dengan Kraton seperti Solo dan Jogja.Beliau berpesan : “Urip memang akeh cobane kaya ketan kae. Ketan iku nek saya di tumbuk saya atos lan malah dadi Juadah sing atos tapi enak, yen nggo mbalang asu wae mati” . Terjemahan bahasa Indonesianya kira2 : “Hidup itu seperti beras ketan itu. Beras Ketan itu yang tadinya lembek semakin ditumbuk semakin keras bahkan dapat jadi Uli yang keras tapi enak, yang apabila dilemparkan ke anjing saja mati”Intinya adalah hidup memang penuh cobaan, nggak hanya yang senang saja ada kalanya kita diberiNya cobaan bahkan cemoohan dari orang lain. Tapi apabila kita sabar dan tetap fokus pada apa yang jadi esensi dan tujuan hidup kita dan berjalan di jalanNya, maka segala cobaan tersebut justru menjadi sesuatu yang akan memperkuat hidup kita selanjutnya
Kata yang gue tebalkan sebenarnya Cuma tambahan gue aja, frase tersebut memang sangat biasa muncul di percakapan sehari – hari
PS:Saya (dan semua keluargaku) pecinta binatang nggak menganjurkan menyabit Anjing (dan Kucing) dengan juadah atau biasa ditulis Jadah, juadah lebih enak dimakan saja oleh manusia digoreng atau dimakan biasa saja dan dapat ditambah dengan parutan kelapa atau gula merah yang dicairkan (kinca) :-D.
Gambar juadahnya mungking kurang akurat ya, yang coklat itu bukan juadah tapi tempe bacem, gambar lainnya di dapat dari id.wikipedia dan gambare si tukul dari sini
0 Comments:
Subscribe to:
Posting Komentar (Atom)


